Dunia Menanti ‘Restu’ DPR AS untuk Bailout US$ 700 Miliar


Voting Senat AS (Foto: Reuters)

Jakarta – Seluruh dunia termasuk Indonesia berharap Kongres AS menyetujui paket kebijakan penyelamatan sektor finansial AS yang diajukan pemerintahan Presiden Bush. Persetujuan paket penyelamatan itu dinilai penting bagi pemulihan perekonomian global.

Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo kepada detikFinance, Jumat (3/10/2008).

“Kita berharap pasar uang dunia kembali tenang dan raksasa industri keuangan dunia lolos dari kebangkrutan. Krisis finansial AS itu praktis menghadirkan dampak bagi kita. Kita berharap pasar uang kita tidak dirongrong spekulasi lagi, dan rupiah bisa kembali ke posisi yang ditargetkan APBN-P 2008,” tuturnya.

Bambang mengatakan dengan disetujuinya rencana bailout sebesar US$ 700 miliar oleh Kongres AS, diharapkan perekonomian global kembali bergairah setelah beberapa bulan ini dilanda kelesuan (slowdown) sejak lonjakan harga minyak. Kalau perekonomian global bergairah, permintaan produk ekspor akan tumbuh lagi.

“Pengusaha kita yang selama ini beorientasi ekspor, misalnya tekstil dan produk tekstil (TPT)  bisa membangun kembali kontak dagang dengan partner mereka. Begitu juga eksportir produk perkebunan, karena harga komoditas ini diperkirakan akan menguat lagi,” ujarnya.

Selain itu, lanjut dikatakan Bambang, hot money mungkin akan kembali memasuki pasar uang Indonesia.

“Pintar-pintarlah mengelolanya agar bermanfaat bagi kita. Selama ini, hot money hanya menambah volume valas di pasar uang dan diuntungkan oleh suku bunga yang tinggi, tetapi dapat ditarik kapan saja oleh fund manager,” katanya.

Pemerintah juga harus memperhitungkan dampak psikologis dari krisis finansial di AS terhadap para deposan atau pemilik dana di dalam negeri.

“Memang, dampak krisis finansial AS tidak signifikan untuk kita. Tetapi perlu dicegah rush yang terjadi di AS serta China dan Hongkong menginspirasi deposan dalam negeri melakukan hal serupa. Rush bisa menggoyahkan sistem perbankan kita,” paparnya.

Ketika krisis moneter menerpa Indonesia pada 1998, puncaknya terjadi terjadi ‘serangan mematikan’ yakni rush terhadap sistem perbankan nasional. Dewan Moneter (waktu itu) menyelamatkan sistem perbankan dengan instrumen Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

“Maka, menghadapi situasi sekarang,  hal terpenting yang harus dilakukan adalah melindungi sistem perbankan. Biarkan publik yakin bahwa dana mereka di bank aman agar rush bisa dicegah,” ucapnya.

Dalam situasi seperti sekarang, publik biasanya butuh informasi tentang aspek ketahanan ekonomi negara, sebarluaskan informasi itu secara intensif.

“Misalnya, data tentang cadangan devisa negara serta kemampuan perbankan melayani penarikan dana masyarakat,” imbuhnya.

Dituturkan Bambang, paling utama tentu saja likuiditas bank harus tetap terjaga. Berapa pun jumlah yang ingin ditarik deposan, bank harus mampu melayaninya. Dalam situasi seperti sekarang, jangan menimbulkan kesan kalau likuiditas bank bermasalah.

“Rumor seperti itu sangat berbahaya,” katanya.

“Setiap bank biasanya punya nasabah utama. Kepada mereka perlu ditanamkan pemahaman bahwa uang mereka tetap aman di bank, karena kita tidak dalam situasi seperti di AS sekarang ini,” lanjutnya.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: